Tuesday, September 1, 2015

Alat Bantu Seks Diperdagangkan Bebas di Jantung Irak|Sarangdomino.com|Agen Judi Online Terpercaya



Liputan6.com, Baghdad - Di Souk al-Shorja, pasar yang berada di jantung kota Baghdad, seorang laki-laki muda memanggil temannya. Ia menunjuk sesuatu ke arah trotoar pasar yang ramai.

"Lihat, bahkan di Barat, pajangan seperti itu tidak dipamerkan di pasar-pasar yang ramai seperti ini, "katanya.

Seorang perempuan lewat ikut penasaran dengan apa yang  ditunjuk laki-laki muda itu. Namun, segera ia membuang muka dan  berlari mejauh.

Sebuah pasar paling terkenal di Baghdad memberi banyak kejutan bagi siapapun yang datang ke situ. Kita bisa menemukan apapun termasuk obat-obatan. Namun, siapa sangka di pasar terbuka, ramai dan gaduh ini menjual sex toys seperti dildo berwarna-warni dan berbagai macam alat bantu seks lainnya.

Hal ini mengejutkan sekaligus aneh dagangan seperti itu terang-terangan dijual di pasar terbuka di negara yang menerapkan aturan beragama yang ketat.

Laman Al-Monitor memperhatikan pembeli di pasar Shorja. Banyak anak-anak muda berhenti melihat-lihat mainan seks itu lalu tertawa-tawa depan penjual sambil bercanda, "Memangnya ada orang yang membeli ini?"

Negeri seribu satu malam ini sangat konservatif dan taat beragama. Sangat mengejutkan kalau penjual alat bantu seks ini bisa "berbaur" di tengah-tengah pasar yang ramai. "Ini pemandangan biasa saja. Kami lagi pula sama-sama berjualan," kata salah seorang pedangan seks toys.

Pemerintah setempat pada dasarnya gerah dengan kelakuan para pedagang yang tetap nekat menjual 'mainan' ini. Tahun 2012  Dewan Kota Baghdad sudah memperingati mereka dan akan mengambil langkah hukum kalau mereka tetap ngotot menjualnya.

Sayangnya, pemerintah kota tidak cukup kuat melahan laju penjualan mainan seks ini. Tetap saja mereka mudah ditemukan di  pasar terbuka Shorja.

Sejauh ini pemerintah kota pun belum memberikan langkah hukum untuk penjualan produk seks meskipun barang ini dianggap 'haram' dan 'tidak bermoral'

"Barang-barang ini sudah berada di pasaran semenjak tahun 2004. Kami jual diam-diam ke salon perempuan. Para wanita akan menyebut 'dalalas' untuk barang-barang ini," kata seorang penjual kepada Al-Monitor yang tidak ingin dibuka identitasnya.

"Kalau pria mereka mau beli tinggal datang ke sini tanpa malu-malu. Lain halnya pelanggan perempuan, mereka akan meneleponku lalu aku antar pesanannya."

Sama halnya dengan Shorja, Bab Al-Sharqi adalah pasar tanpa aturan. Di situ bisa melihat obat-obatan bersanding dengan sepatu. Seragam militer bersanding dengan film porno dari keping bajakan.

Semua barang terbuka begitu saja. Tanpa pengawasan dari pemerintah.

"Polisi selalu mengejar-ngejar kami. Tapi di pasar ini, mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Kami punya hukum sendiri," kata Hussein Koulshi pedagang mainan seks.

"Banyak pria membeli barang daganganku. Terutama anak remaja. Harganya beriksar US$40-200 atau Rp 400 ribu hingga Rp 2 juta. Ada beberapa yang lebih mahal tapi jarang diminati."

Penjual obat kuat dan seks Abdul al-Kaabi juga mengatakan hal yang sama. Ia bebas menjual obat-obatannya tanpa takut intervensi pihak berwajib. Sebagian barang dagangannya diimpor secara ilegal dari China tanpa melewati badan pengawas obat-obatan setempat.


"Obat-obatan ini tidak punya izin dan beberapa konsumenku mengaku mendapatkan efek samping negatif. Tapi tetap saja mereka membeli, bahkan obat-obatan kuat yang sudah saya wanti-wanti bisa menyebabkan kematian, mereka beli juga."

Ali Jassim al-Maytoti, anggota parlemen Irak untuk Ketahanan Nasional dibuat pusing dengan banjirnya obat-obatan dan alat bantu seks ilegal ke negerinya. Ia menyamakan barang-barang itu dengan ISIS, sama-sama merusak negaranya.

"Ada korupsi di perbatasan sehingga barang-barang ini dengan mudahnya masuk ke jantung ibu kota. Mereka ingin membuat Irak hancur."

Sayangnya ia tidak punya cukup informasi bagaimana mainan dan obat-obatan itu bisa masuk. Ia menyalahkan ketidakstabilan Irak yang menyebabkan mudahnya 'barang perusak moral' sampai di negaranya.

Negara tetangganya seperti Iran, Yordania, Suriah mahfum bahwa Irak adalah surga obat-obatan di bawah standar internasional.

Dengan berantakannya keamanan dan korupsi di pemerintahan, mengurangi bahkan melarang fenomena ini adalah hal yang mustahil.

0 comments:

Post a Comment